Pemuda yang ber-VISI

Pemuda, ‘katanya’ merupakan agen perubahan. Agen yang mampu melakukan gerakan perubahan dalam sendi-sendi kehidupan hanya dengan bermodalkan visi dan semangat. Berbagai macam gerakan perubahan dunia, baik dari yang masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang dilakukan oleh pemuda. Oleh karena itu, pemuda haruslah visioner. Namun, bagaimana pemuda harus membangun visinya? Bagaimana pula aksi yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi tersebut? Bukankah tidak sedikit pemuda yang terjebak dan salah langkah hanya karena visi yang ia bangun tidak tepat atau salah beraksi untuk mewujudkan visinya?

Belum lama ini, bersama rekan juang mewakili pengurus Armada Trainer TIK (AT-TIK) Sumut mengikuti sebuah seminar “ON” dan hadir sebagai pembicara Jamil Azzaini di Hotel Hermes Medan. Ada kutipan Jamil yang buat saya takjub dan sedikit merenung untuk sekadar memikirkannya.

“Dalam membuat sebuah kegiatan, baik itu seminar, pelatihan atau kegiatan yang lain panitia selalu menyusun sebuah proposal dan perencanaan yang matang. Padahal kegiatan hanya untuk beberapa jam atau beberapa hari. Lalu untuk hidup Anda yang akan dijalani seumur hidup sampai kembali kepada-Nya, kenapa tidak membuat proposal hidup atau perancanaan yang lebih rapi dan matang?” ujar Jamil. 

Saya pun seolah tersadar. Kemana saja saya selama ini? Berpuluh kali saya dan teman-teman-teman yang bergabung di AT-TIK Sumut banyak mengajukan beragam proposal kegiatan, namun kenapa tak terbesit untuk menjadi pemuda yang bervisi dengan menyusun beragam porsi kehidupan dalam sebuah proposal?

Dalam proses hidup, tentunya kita tidak mau mengambil risiko untuk melaksanakan suatu kegiatan secara serampangan tanpa perencanaan, karena kemungkinan besar berantakan dan tak sesuai dengan keinginan. Namun untuk menjalankan hidup yang sesungguhnya, justru kita seolah lupa, karena dilakukan tanpa perencanaan yang baik. Ada yang bilang “nikmati hidup kemanapun nasib membawamu”. Sedangkan mungkin kita sudah merencanakan hidup kita, namun apakah cukup dipikirkan di kepala? Saya jadi teringat kalimat “Plan is not plan until it’s written”. Selain itu, saya juga teringat kalimat “If you fail to plan, you plain to fail”. Apakah kita berencana untuk gagal dalam hidup kita?

Untuk itulah, pemuda selaku agen perubahan harus memiliki visi. Menurut Jamil, Visi itu harus jelas, tidak mengambang dan abstrak. Mungkin visi negara kita, Indonesia, salah satunya mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia itu abstrak. Bisa jadi visi itu dibangun dengan asumsi negara kita ini akan bertahan lama sampai akhir zaman yang tidak bisa kita tentukan. Namun untuk ukuran pribadi maupun organisasi, visi sebaiknya lebih kepada hal yang lebih konkret untuk diwujudkan.

Kemudian sebagai umat beragama, hidup ini merupakan persinggahan. Tidak pantas juga kita hanya bervisi untuk dunia, kita harus memiliki visi akhirat yang lebih layak untuk dikejar. Karena disanalah hidup kita yang abadi. Lalu, visi akhirat hanya dapat terwujud jika kita memiliki visi dunia yang memantaskan diri kita untuk mewujudkan visi akhirat. Oleh karena hubungan tersebut, tentunya visi dunia haruslah yang memiliki manfaat bagi orang lain.

Mengutip visi Jamil, visi akhirat beliau ialah “ingin memeluk Nabi Muhammad saw di tempat yang terhormat”. Maka untuk sampai ke sana beliau harus mengumpulkan bekal di dunia. Maka beliau pun membuat visi dunia “Ingin Menginspirasi 25 juta orang lebih, khususnya para pengambil keputusan, pengusaha, tokoh masyarakat, dan konglomerat yang 10 ribu di antaranya menjadi Inspirator SuksesMulia yang aktif berbagi inspirasi bagi banyak orang”.

Seolah mendapatkan jeweran dikuping karena tersindir sebagai pemuda yang belum menyususn visi dengan baik, saya pun sekilas tertunduk malu. Maka, bagi para pemuda Indonesia jika ada visi yang tak sesuai, ataupun belum memiliki visi dalam sebuah kehidupan, maka mulailah bervisi atau merevisi visi yang ada sekarang! Jangan lupa untuk ditulis karena kalau tidak visi Anda bisa berubah setiap 1 minggu sekali. 

Setelah bervisi, lalu apa? Jawabannya Aksi. Tanpa aksi, ia hanya akan menjadi imajinasi tak terwujud. Namun aksi yang asal-asalan juga akan menghasilkan kesibukan tanpa hasil. Aksi yang perlu kita lakukan adalah Kerja 3K, yakni Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerja Ikhlas. 

Kerja keras yang dilakukan berulang-ulang akan melatih myelin membentuk kebiasaan baru. Melatih Myelin sama kasusnya seperti kita belajar berbahasa. Sekali dikuasai, maka akan sulit hilang dan dilupakan. Seperti kata Albert Einstein, kesuksesan itu 1% inspirasi, 99% kerja keras. Kemudian, Kerja Cerdas dilakukan untuk melatih Brain Memori. Kerja Cerdas merupakan usaha yang melibatkan kecerdasan otak untuk meringankan dan mempercepat kerja, serta berlatih menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat. Kerja Cerdas akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari segi kualitas maupun kuantitas. Selanjutnya Kerja Ikhlas mewajibkan kita untuk melibatkan kuasa Allah dalam segala aktivitas. Maksimal pun kita dari sisi kerja keras dan kerja cerdas bisa saja gagal. Sebaliknya, banyak kekurangan pun kerja keras dan kerja cerdas yang kita lakukan, Allah punya cara sendiri untuk membuat kita yang diridhaiNya sukses.

Kemudian, periksa apakah aksi yang kita lakukan sesuai passion (penjiwaan). Semua orang memiliki penjiwaannya masing-masing. Bagaimana ciri-ciri aksi kita yang sesuai passion? Pertama, Dalam beraksi, kita selalu bergairah dan senang melakukannya, walaupun tanpa bayaran. Kedua, Kita akan membangun lingkungan aksi, tidak hanya diam ataupun malah merusak. Jika tidak sesuai, saatnya melakukan taubat profesi. Beralih lah ke profesi yang sesuai dengan passion kita.

Terakhir, kita harus berkolaborasi dengan orang lain. Kenapa harus berkolaborasi? Karena kolaborasi dapat membuat tenaga yang dikeluarkan berkurang, hasilnya berlipat dan manfaat bertambah. Berkolaborasilah dengan orang yang tepat, yakni orang yang bisa mengantarkan kita untuk mencapai visi kita. Awali kolaborasi dengan orang terdekat, misalkan istri bagi yang telah berkeluarga. Perluas pergaulan, utamanya dengan orang-orang berpengaruh dan kita gunakan etika untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. Anda pemuda? Mari ber-VISI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *